Tak terasa memang setahun telah berlalu. Dulu yang ada dalam benak ku adalah sulitnya melalui hari setelah kau tinggalkan aku. Begitu tegarnya ku lalui hari namun tetap saja tertangisi disaat sepi ku sendiri. Disaat ku menghadap Nya, pernah ku mempertanyakan keadilan bagi ku saat itu. Ku terlena akan ketidak adilan tanpa membangkitkan diri, teman wanita silih berganti datang mencoba merubut pikiran dan hati ini. Semua gagal hingga akhirnya ku memutuskan untuk tetap menjalani ini sendiri.

Beberapa kali aku merasakan rindu yang amat terdalam hingga tercucurkan air mata ini mengenang masa lalu itu. Ingin rasanya ku utarakan rindu ini pada mu dan memohon maaf. Hahhhhhhhh....... Ini hanya mimpiku saja. Kau yang telah pergi tinggalkan semua mimpiku yang ada, kau hancurkan semua yang menjadi impian ku. Mungkin ga kamu rasakan hati ini hingga aku memutuskan untuk meninggalkan kota ini demi menenangkan hati.

Kini aku bangkit.....
Saat ini semua telah berubah, kini ku kembali menyusun semua mimpiku dari bawah, ya dari bawah. Karena kau telah menghancurkannya berkeping - keping. Hari - hari ku kini penuh dengan belajar dan mengabdi,  Kalaupun ada yang bertanya tentang mu, itu sudah berlalu dan biarkanlah, semua punya proses hidup. Apakah kau memaafkannya? Itu yang belum bisa ku jawab. Yang jelas ini bangunan baru, jadi tak elok klo menyontek bangunan lama. Mungkin begitu jawaban yang cocok ya.
Hubungan kita disepakati oleh karena kesamaan rasa. Aku tertarik padamu, dan engkau pun demikian. Dalam diriku, sedikit pun tak ada kepedulian tentang kurang atau lebihmu. Karena permulaan itu hanyalah sesederhana ucapan: “Aku tertarik denganmu, itu saja! Tidak rumit dan tidak ribet!”

Setelah sepakat bersama, perkenalan semakin mendalam. Akupun tahu kekurangan dan kelebihanmu, dan begitu dengan aku. Namun matangnya landasan masing - masing dari kita, justru kekurangan dan kelebihan merupakan momentum yang tepat bagi kita untuk saling melengkapi.

Aku sudah lelah berkelana mencari hati. Aku bertekad bahwa bila suatu hari nanti Tuhan mempertemukanku dengan hati yang tepat, aku tak ingin melepasnya. Aku ingin segera mengikatnya dengan janji suci pernikahan.

Mula-mula, mereka menolakmu tanpa alasan yang jelas. Mereka tak menghendaki agar hubungan ini terus berlanjut ke jenjang yang lebih serius. Hadirnya penolakan di tengah cinta yang sedang bersemi, bagaikan petir yang mendadak menyambar tanpa didahului oleh gerimis maupun hujan. “POKOKNYA KAMI TIDAK SETUJU!”

Begitulah yang kerap mereka ucapkan pada permulaan. Kadang aku berpikir bahwa mungkin kalian masih sedang dalam proses untuk memikirkan alasan yang membuatku kelak berpikir bahwa itu logis. Kami terus menjalani hubungan dengan rahasia darimu. Waktu terus berjalan hingga tak terasa hubungan ini menginjak usia 6 tahun. Pernah berkeinginan melanjutkan hubungan ini namun restumu pun belum ku dapat. Dengan rasa berat hati, kami pun bersepakat mengakhiri hubungan ini. Aku hanya ingin orang tua ku bahagia dengan inginya. Tak perlu aku tanya lagi alasan atau menguatkan argumen demi tercapainya perpisahan kami. Kami telah usai.

Saat ini, aku hanya berpasrah disodori wanita sesuai dengan  versi mereka: ‘sangat cocok denganku!’
Saat itu, tak henti-hentinya aku membatin: “Lantas, apa bedanya dengan pasangan yang kemarin aku pilih sendiri, pasangan yang tepat menurut versiku? Bukankah masih-masih sedang dalam perjalanan memperjuangkan ego masing-masing?

"Kepada kamu yang senantiasa mengendap dalam hatiku yang paling dalam, berbahagialah dengan ia yang kini beruntung mendapatkanmu. Tetapi maafkan aku bila esok atau lusa, aku rindu.
Hari ini, saat aku sedang menuliskan ini, aku pun tengah ditikam rindu. Karena hidup bersama orang yang tak kita cintai, bukan berarti dilarang rindu terhadap ia yang sesungguh-sungguhnya kita cintai, bukan?
Sekarang  29 Maret, tepat  2 minggu setelah kamu menemukan tambatan hati dan dinyatakan syah oleh agama maupun hukum. Terkadang memang masih tidak menyangka kamu mengkhiatin semuanya. Janji dan harapan yang pernah kau ucapkan kamu tandaskan begitu saja, tanpa mau dirimu menolehkan ingatan kebeberapa waktu lalu. 

Janji yang kamu taburkan padaku masih ku ingat betul didalam ingatanku mulai berjanji menjalani, menjaga dan mengakhiri dengan indah. Semua pernah kau ucapakan dan aku mengingat itu semua. Tapi sudahlah, itu dahulu kala ketika kamu masih mengenal diriku. Kini aku tahu makna yang pernah didefenisikan Aritoteles tentang cinta.

Tak muluk dari diriku, itu keputusan dan langkahmu. Selamat bagimu yang telah menghancurkan segala harapan dan mimpiku. Kelak akan tahu siapa yang sebenarnya menginginkanmu. Tetap aku nanti janji yang pernah kau umbar padaku.

Saat ini ada beberapa benda yang masih ada pada dirimu. Andaipun benda itu telah kau buang pada tempatnya, ku mengikhlaskannya dan jika belum mohon bagiku kembalikan saja padaku. Mungkin tak sangat berarti bagimu namun berarti buat orang lain.
“Diriku mungkin memang orang yang tidak sempurna, namun sesungguhnya cintaku sempurna untukmu kasih. Tapi semua itu kau tinggalkan dan memilih hidup bersama orang lain yang kau cintai”
“Inilah hidupku, dan itulah hidupmu. Dua mata sisi koin yang berbeda, kau diatas sedangkan aku di bawah. Pantas saja jika kau memilihnya, lelaki yang lebih segalanya dariku. Namun kau suatu hari akan merasakan hati siapa yang lebih tulus untuk mencintaimu”
“Meninggalkan dan ditinggalkan adalah dua hal yang sama, yaitu sama-sama menyakitkan. Namun ku hanya seorang manusia biasa yang tak punya kekuasaan, keputusanmu itu yang memang terbaik untukmu, lakukanlah. Dan itu yang terbaik untukku, lepaskanlah”
“Mencintai adalah hal yang sangat membahagiakan, apalagi ketika orang yang kita cinta mencintai kita juga. Tapi sakit memang ketika cinta yang tlah kita berikan dengan setulusnya di balas dengan pengkhianatan. Namun itulah kehidupan yang harus ku sadari, jika jalan hidup harus sesuai dengan apa yang kita inginkan bukanlah itu sebuah kehidupan. Karena hidup yang sebenarnya adalah hidup yang penuh dengan rintangan dan cobaan”

"Ku Ikhslaskan perjalananku seperti ini dan aku rela menjalani seutuhnya. Mungkin tak perlu larut dalam kesedihan dan meratapi keputusanmu, Karena sebenarnya cinta kita telah usai dua tahun lalu. Yang saat ini terbersit hanyalah perjuangan nan penyesalan yang ada, kenapa disaat telah berakhir cerita kita kau masih menghembuskan udara segar padaku kala itu."
“Ku ikhlaskan kau bersanding bersamanya, meski terkadang air mata jatuh tanpa ku sadari hingga mata ini seperti ditutupi kabut yang amat tebal. Inilah aku dengan segala keterbatasan aku, semoga kau selalu hidup bahagia bersamanya, kasih”
Mungkin hari ini adalah hari dimana awal kebahagiaanmu akan berjalan. Setelah hari pertunanganmu telah kamu lalui beberapa minggu lalu, hari ini yang kamu tunggu setelah itu. Iya, dimana hari ini adalah hari bagi para wisudawan/wisudawi merayakan kelulusannya. Saya memang tak perlu ada kabar untukmu namun hari juga adalah hari kebahagian bagi temanku dahulu yang pernah dekat lebih dari 5 tahun.
Mungkin dia lupa akan sejarahnya dia bisa kuliah hingga selesai sampai suka citanya dihari ini. Baiklah akan saya kembali ingatkan bagaimana bisa dia sampai kuliah disitu. Awalnya sih kami mempunyai cita - cita untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, namun saya lebih beruntung karena saya terlebih dahulu merasakan pendidikan pascasarja di salah satu ptn di Medan. Dengan berbagi cerita bersamanya selalu saya memotivasi untuk dia melanjutkan pendidikannya. Mungkin dengan melanjutkan pendidikan akan lebih terbuka pekerjaan yang mapan dan kesejahteraan pastinya kan mengahampiri.
Untuk saat itu mungkin saya lebih beruntung untuk melanjutka pendidikan karena ikatan dinas atau finansial saya telah mencukupin. Untuk dia saat itu terhalang akan ikatan dinas di instansinya yang dimana dlu aku pernah mencicipi pekerjaan disitu. Selain ikatan dinasnya sebab lainnya adalah finansialnya yang belum mencukupi. 
Tak lama bekerja di instansinya kira - kira 6 bulan berikutnya, ia mencoba memberanikan diri untuk mencobanya pendaftaran pascasarjana di ptn yang cukup baik dibidang ekonomi akuntansinya di Sumatera Utara. Dengan sigap saya terus mendorong dan membantunya untuk melanjutkan pendidikannya itu. Mencari berita beasiswa, pengumuman pendaftaran hingga daftar ulang pun aku ambil peran disitu.
Mungkin ia lupa akan hal itu, ketika mencari info beaasiswa digedung pascasarjana Ekonomi aku pun ikut menemaninya. Karena informasi beasiswa tak kami dapatkan dengan kepercayaan diri yang tinggi akhirnya ia memutuskan untuk mendaftarkan diri melalui online. Setalah mendaftar online selanjutnya adalah pengecekan berkas secara manual dan diharuskan mendatangi kampus. Untuk itu ia memintaku untuk menemaninya ke ptn tersebut. Dengan rela aku menemaninya setalah aku usai kerja.
Selanjutnya setelah ia ujian masuk dan kemudian ia dinyatakan lulus. Masalah mulai menambah pikirannya, biaya untuk daftar ulang pun belum terkumpul keseluruhan olehnya. Kembali aku dengan bijak membantunya dan akhirnya biayanya pun terkumpulkan juga. Selanjutnya mucul kembali masalah, yaitu tak ada waktu baginya untuk mendaftarkan ulang melalui salah satu bank terbesar di negeri ini, padahal waktunya sudah mepet kian. Dia kembali memintaku untuk mendaftarkannya di Bank tersebut. Dengan bijak aku iyakan karena inilah salah satu bentuk perhatianku padanya.
Pendidikan tinggi telah kami cicipi masing - masing, kesibukan kami pun masing - masing makin banyak. Kurangnya intensitas ketemu dan komunikasi membuat kami makin terpuruk setelah restu tak kunjung datang padanya. Masih ingat dalam benakku seminggu sebelum kami memutuskan hubungan yang sudah lebih dari 5 tahun itu, dia pernah bertanya padaku. "Apakah masih ada harapan kita bersama?", "Andai kata kita putus apa yang akan abang lakukan?", "Akankah abang masih membuka diri untuk berkomunikasi padaku?", "Masihkah abang menjaga rahasia hubungan ini jika kita tak bersama lagi?". Mungkin itulah sebagian pertanyaan yang masih aku ingat saat ini. Dengan percaya diri aku menjawabnya harapan kita bersama memang berat untuk dilalui saat ini dan kedepannya, sekarang tergantung kita sebagai pelakunya menanggapinya bagaimana. Seandainya pun kamu menyerah dan mengakhiri hubungan ini aku akan tetap duduk ditempat mana kita pernah berjanji saat itu. Aku akan menunggumu hingga aku tak mampu lagi. Percayalah hanya kamulah wanita yang baik dimataku walaupun orang lain berkata buruk padamu. Mungkin berat bagiku nanti seadainya kita berpisah, akan aku cari caranya sendiri untuk benar - benar melupakanmu. Seandainya kamu masih ingin berkomunikasi maka aku tak akan menutup diri untukmu, apalagi kamu saat ini sendiri di kota yang penuh tantangan ini. Aku akan selalu ada untuk dirimu walaupun kamu anggap aku telah tiada. Dan aku mengakhiri segala pertanyaan padaku dengan tetap menjaga rahasia hubungan ini dengan baik. Tetap baik didepan mata orang lain. 
Seminggu percakapan itu usai kita bahas bersama tepat dibulan Mei 2014, aku yang selagi ada tugas di Sibolga kamu putuskan untuk mengakhirinya. Berita ini membuat aku mulai rapuh dan tak percaya akan alasanmu, tapi sudahlah mungkin ini inginmu dan ini adalah ketidaksanggupan aku menahanmu bersama membangun hubungan ini. Dengan segala upayaku untuk membangkitkan diri hingga melaupakan semua tentangmu. Pada akhirnya akupun benar - benar tak sanggup, benar - benar berat melalui tanpa dirimu lagi. Mungkin belum mampu aku menghapuskan dirimu dalam pikiranku ini. Disaat aku ingin berjalan sendiri kamu menghampiri aku, dan disitu kepercayaan kembali tumbuh untuk bersamamu kembali. Hubungan tanpa status ini kita jalanin kurang dan lebih 5 bulan setelah kita bubar, masih ingat benar dalam benakku sebelum benar - benar kita putuskan jalan masing - masing kau mencium pipiku untuk terakhir kalinya di bulan Oktober 2014 itu. Setalah itu kaulah yang benar - benar menguburkan mimpiku untuk kedua kalinya. Sia - sia aku memperjuangkan hubungan ini dan kau hancurkan sebegitu saja.
Masih dalam ingatanku, mungkin kau telah menemukan lelaki baik dan mempunyai masa depan yang baik daripada diriku saat itu. Tak perlu lama aku bangkit dan mencari kehidupan setelah kebersaan kita. Bangkit dan terus berjuang tanpamu memang sulit bagiku, karenatelah lebih dari 5 tahun kita telah bersama - sama menjalani kehidupan. Sudahlah, bukan berarti perjalanan hidupku harus berhenti sampai disini. Aku juga mempunyai masa depan walau tanpamu.
Semua perjalanan memang harus dengan usaha dan keikhlasan, perjalan tanpamu telah aku jalani 1,5 tahun tanpamu dan benar - benar tanpamu. Semua aku berjalan tanpamu dan tanpa dirimu dibelakangku. Namun upaya seorang teman untuk membantu mendudukkan hubungan yang putus tanpa arti pun dicoba, sekedar ingin membantu mungkin. Awalnya aku tetap bersih keras tak akan mencoba menjalin hubungan ini kembali. Namun pertimbangan saran dan nasehat berbagai teman aku pertimbangakan. Sampai pada akhirnya kami berjumpa beberapa kali dan mengunjungi tempat yang menjadi hobby kami bersama.
Kurang lebih 2 bulan dalam tahun ini kami menjalin silaturahmi tersebut. Mencoba memperbaiki hubungan yang rumit ini, mungkin hanya aku berupayanya. Namun ku ikhlaskan demi kebaikan hubungan ini. Sifatku ku kembalikan ke awal hubungan kami dulu, membantu, perhatian dan kasih sayang untuknya takkan pudar sebegitu saja. Sesampai di ujung tahun 2015 aku masih membantu tugas akhirnya, ya walaupun hanya menguhubungkan dengan seseorang ahli statistik. Awalnya aku masih berpikiran baik dengannya, dia berkata bimbingan dengan dosen pembimbing namun aku mendapatkan informasi bahwa dia bimbingan dengan teman aku sendiri. Awal kecurigaan bahwa niat baikku dicoreng dengan kebohongan sesaat, mungkin dia menutpi hal itu tapi aku tahu sendiri dengan baik.
Ku biarkan dia menjalani tugas akhirnya sendiri, selain mencoba kejujuran dan mungkin dia perlu konsentrasi menyelasaikan tugasnya tersebut. Dan aku pun harus menyelesaikan kewajibanku yang tertinggal akibat keterpurukan hubungan ini. Aku kembali membuangkan ingatanku tentang dirinya dan aku harus segera menyelesaikan ini.
Kehidupanku kembali normal dan berjalan begitu cepat hingga aku ingat bahwa hari itu adalah ulang tahunmu. Aku hanya bisa mengucapkannya untukmu. Tak ada lebih selain menyampaikan doa yang tulus untukmu. Yang aku sesali hanya kau tak mau lebih berkomunikasi dengan aku. Tapi sudahlah itu hakmu. Aku pun tak mau berharap lebih dari apa yang ada saat itu. Hanya bangkit dan terus bangkit. Hingga aku mendengar bahwa diri telah menyelesaikan studimu. Mungkin aku berhak untuk menyesal, awal kuliah aku ada untukmu dan diakhir studimu kau tak mengabarkan aku, walaupun aku bukan harapanmu tapi ada upayaku disitu. Hari ini suka citamu dan selamat untukmu.
Bulan Februari tahun ini adalah bulan kesialan aku mendengarkan dirimu telah menerima lamaran orang. Bukan aku mendengar dari orang lain tapi dari diri sendri. Selas pagi Pukul 6.00 adalah hari terberatku, menjalani tugas sebelumnya dan mendengarkan kabar darimu membuat hariku makin terpuruk. Tapi aku harus tetap menjalani hari ini dengan beban yang luar biasa. Aku tetap ikhlas dan bangkit ini tanpamu. Mungkin berat menerima kenyataan yang ada. Tapi aku berhak menyesal atas keputusanmu itu.
Tak pula aku membangkitkan masa lalu yang ada, namun mungkin tak ada lagi kesempatan untuk kita bersama. Hancur semua usaha dan upayaku selama ini. Hak mu untuk memutuskan masa depanmu dan hak mu juga menerima lamaran peria lain. Tapi kenapa tak ada kesempatan ku untuk memperbaiki diri dan hubungan ini. Niat bulat aku pun ada, tapi kau tak memberiku kesempatan. Upaya mengakhiri hubungan ini dengan baik sia - sia sudah. Kau benar - benar mengakhiri segalanya dengan menggantungkan cerita yang ada. Aku takkan pernah mengganggumu namun engakau harus tahu hal ini biar tak segampang itu kau melupakan perjalananmu bersama aku.
Tak usah kau pandang kembali aku, tatap saja hidupmu, aku hanya akan memegang janji yang pernah kau ucakan padaku setelah hubungan ini berakhir. Hanya itu....!!!