Tidak Restu Orangtua Itu Sudah Biasa. Ini Ceritaku

by Februari 21, 2017 0 komentar
Hubungan kita disepakati oleh karena kesamaan rasa. Aku tertarik padamu, dan engkau pun demikian. Dalam diriku, sedikit pun tak ada kepedulian tentang kurang atau lebihmu. Karena permulaan itu hanyalah sesederhana ucapan: “Aku tertarik denganmu, itu saja! Tidak rumit dan tidak ribet!”

Setelah sepakat bersama, perkenalan semakin mendalam. Akupun tahu kekurangan dan kelebihanmu, dan begitu dengan aku. Namun matangnya landasan masing - masing dari kita, justru kekurangan dan kelebihan merupakan momentum yang tepat bagi kita untuk saling melengkapi.

Aku sudah lelah berkelana mencari hati. Aku bertekad bahwa bila suatu hari nanti Tuhan mempertemukanku dengan hati yang tepat, aku tak ingin melepasnya. Aku ingin segera mengikatnya dengan janji suci pernikahan.

Mula-mula, mereka menolakmu tanpa alasan yang jelas. Mereka tak menghendaki agar hubungan ini terus berlanjut ke jenjang yang lebih serius. Hadirnya penolakan di tengah cinta yang sedang bersemi, bagaikan petir yang mendadak menyambar tanpa didahului oleh gerimis maupun hujan. “POKOKNYA KAMI TIDAK SETUJU!”

Begitulah yang kerap mereka ucapkan pada permulaan. Kadang aku berpikir bahwa mungkin kalian masih sedang dalam proses untuk memikirkan alasan yang membuatku kelak berpikir bahwa itu logis. Kami terus menjalani hubungan dengan rahasia darimu. Waktu terus berjalan hingga tak terasa hubungan ini menginjak usia 6 tahun. Pernah berkeinginan melanjutkan hubungan ini namun restumu pun belum ku dapat. Dengan rasa berat hati, kami pun bersepakat mengakhiri hubungan ini. Aku hanya ingin orang tua ku bahagia dengan inginya. Tak perlu aku tanya lagi alasan atau menguatkan argumen demi tercapainya perpisahan kami. Kami telah usai.

Saat ini, aku hanya berpasrah disodori wanita sesuai dengan  versi mereka: ‘sangat cocok denganku!’
Saat itu, tak henti-hentinya aku membatin: “Lantas, apa bedanya dengan pasangan yang kemarin aku pilih sendiri, pasangan yang tepat menurut versiku? Bukankah masih-masih sedang dalam perjalanan memperjuangkan ego masing-masing?

"Kepada kamu yang senantiasa mengendap dalam hatiku yang paling dalam, berbahagialah dengan ia yang kini beruntung mendapatkanmu. Tetapi maafkan aku bila esok atau lusa, aku rindu.
Hari ini, saat aku sedang menuliskan ini, aku pun tengah ditikam rindu. Karena hidup bersama orang yang tak kita cintai, bukan berarti dilarang rindu terhadap ia yang sesungguh-sungguhnya kita cintai, bukan?

Unknown

Developer

Cras justo odio, dapibus ac facilisis in, egestas eget quam. Curabitur blandit tempus porttitor. Vivamus sagittis lacus vel augue laoreet rutrum faucibus dolor auctor.